Thursday, November 20, 2008

Fenomena Pasar Modal Indonesia

Pergerakan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dalam beberapa bulan terakhir secara rata-rata mengalami peningkatan. Pertumbuhan ini dianggap sebagai pertanda perbaikan ekonomi yang mencerminkan kepercayaan dunia bisnis (internasional) pada perekonomian Indonesia. Perlu diketahui, IHSG sebetulnya merupakan rata-rata harga saham secara keseluruhan yang tercatat di bursa. Artinya, belum tentu semua harga saham meningkat bila terjadi peningkatan IHSG.Namun, nampaknya keberhasilan pasar modal belum diikuti dengan meningkatnya sumbangsih atau dorongan pada kemajuan sektor perekonomian lain, seperti sektor riil. Padahal, sektor finansial tidak bisa dilepaskan dari sektor riil. Hubungan keduanya seperti dua sisi mata uang yang harus ada untuk mencapai kemajuan perekonomian. Akan tetapi, perkembangan saat ini menyiratkan betapa kondisi sektor riil jauh tertinggal dibanding sektor finansial. Kemajuan sektor finansial menjadi salah satu indikator makro yang dijadikan salah satu indikator kemajuan perekonomian. Padahal, pasar modal sebagai bagian sektor finasial tidak begitu kuat menopang perekonomian karena cenderung berfluktuasi. Fluktuasi ini terjadi salah satunya karena adanya liberalisasi finansial yang mengakibatkan lalu lintas modal semakin lancar, sehingga rawan terjadi pelarian modal (capital outflow) dan aliran masuk modal (capital inflow). Pelarian modal mengakibatkan penurunan harga saham, sedangkan aliran masuk modal mengakibatkan kenaikan harga saham. Lagi pula, kapitalisasi pasar modal di Indonesia lebih banyak dikuasai oleh investor asing. Data Bapepam per april 2007 menunjukkan kepemilikan saham di Indonesia mayoritas adalah asing, yakni sebesar Rp 550,51 triliun atau 67 persen, sedangkan pemilik lokal hanya sebesar Rp 264 triliun atau 32,4 persen. Padahal, beberapa pemilik lokal yang dimaksud terdiri dari asuransi, reksa dana, lembaga keuangan, perusahaan, perusahaan efek sebagian juga dimiliki oleh asing. Fenomena ini menunjukkan betapa partisipasi warga Indonesia terhadap kemajuan pasar modal masih mengecewakan. Apabila modal lokal yang benar-benar milik warga Indonesia berpartisipasi dominan pada kemajuan pasar modal, maka akan ada simbiosis mutualisme (hubungan saling menguntungkan) antara perusahaan-perusahaan atau emiten dalam negeri dengan pemilik modal yang merupakan warga Indonesia. Namun harapan tersebut bukan bermaksud menolak penyertaan modal asing, hanya saja pemain-pemain lokal khusunya perorangan perlu didorong agar berpartisipasi dominan dalam berinvestasi di bursa saham. Oleh karena itu, kemajuan spektakuler pasar modal saat ini masih perlu dikritisi. Apalagi setelah diadakan penggabungan dua pasar efek yaitu Bursa Efek Surabaya (BES) dan Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang resmi beroperasi pada tanggal 1 desember kemarin. Penggabungan dua bursa efek ini memunculkan optimisme setiap pihak dalam mendorong kemajuan pasar modal yang lebih spektakuler dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Namun tidak ada manfaat bagi kebanyakan rakyat Indonesia bila kemajuan pasar modal tidak lebih sekedar kemajuan sektor finansial tanpa ada efek lebih besar pada kemajuan sektor riil. Oleh karena itu, pasar modal mesti mengatasi masalah sektor riil kaitannya dengan sumber pembiayaan. Begitupula dengan penyertaan modal lokal yang benar-benar dimiliki oleh warga Indonesia, haruslah meningkat dan menghapus dominansi asing di pasar modal Indonesia. Apabila fenomena seperti ini tidak terjadi, maka kemajuan pasar modal Indonesia tak lebih dari sekedar kemajuan semu

0 comments:

Post a Comment